Oleh: Palimbani | 10 September 2007

Indonesia Jadi Lumbung Padi Dunia Tahun 2009

Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi mengatakan, Indonesia dimungkinkan menjadi negara swasembada beras pada 2008, bahkan menjadi lumbung beras dunia pada 2009 jika berhasil mengembangkan dan memperluas padi varietas unggul Saputra.

Hal itu diungkapkan Sudi Silalhi usai meninjau dan melakukan panen padi varietas Saputra, di Desa Tambak Jati, Kecamatan Patok Beusi, Subang Jawa Barat, Senin.

Padi varietas Saputra hasil riset Saputra Group selama 14 tahun, yang benihnya diperoleh dari salah satu varietas padi di Bima.

Dengan menggunakan teknologi pemupukan yaitu Saputra Nutrien Liquid dan Saputra Nutrien Powder, benih padi varietas Saputra mampu menghasilkan padi minimal 15 ton per hektare per panen, lebih tinggi dibanding panen padi varietas lainnya yang rata-rata 4,2 ton per hektar per panen.

“Pemerintah terus mendorong upaya penemuan varietas unggul seperti Saputra, sehingga Indonesia bisa kembali ke masa tahun 80-an mencapai swasembada beras,” ujar Sudi.

Ia juga berharap pengembangan varietas unggul ini Indonesia tidak lagi mengimpor beras untuk memenuhi konsumsi dalam negeri, bahkan bisa memenuhi pasar ekspor.

Meski begitu katanya, dibutuhkan juga mekanisme pendanaan melalui sistem perbankan sehingga sektor pertanian bisa lebih berkembang.

Sementara itu, Presiden Direktur Saputra Group, Raden Umar Hasan Saputra mengatakan, saat ini sedang mengembangkan varietas padi Saputra di 363 kabupaten kota di seluruh Indonesia, yang bekerjasama dengan 40.920 kelompok tani.

“Biaya produksi varietas ini hanya sekitar Rp300 per kilogram padi, jauh lebih rendah dibanding biaya produksi varietas lainnya yang bisa mencapai Rp600 per kg,” ujar Saputra.

Masa tanam hingga panen hanya mencapai 86 hari, sehingga dimungkinkan petani bisa panen empat kali dalam setahun.

Tingkat produktivitas padi Saputra juga lebih tinggi. Pada lahan sawah irigasi produksi bisa meningkat 30 persen lebih tinggi dibanding varietas lainnya, pada sawah tadah hujan 80 persen, dan pada lahan gambut/kering produksi meningkat hingga 150 persen dibanding menggunakan teknologi pertanian konvensional.

Keunggulan lainnya, varietas Saputra ini lebih tahan terhadap penyakit termasuk perubahan lingkungan yang ekstrim, rendemen di atas 60 persen, rasa yang dihasilkan lebih enak, mampu mensubsitusi pupuk hingga 70 persen.

“Terbukti, jika dalam satu pohon padi varietas lainnya biasanya terdiri atas 120-150 bulir padi, maka butir varietas Saputra bisa mencapai 400-500 bulir,” katanya.

Saat ini diutarakan Saputra, dalam setahun terakhir pihaknya telah mengembangkan sekitar 150 hektar areal sawah untuk varietas padi Saputra di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

Khusus di Subang dikembangkan seluas 5,4 hektar, yang menjadi salah satu areal percontohan sekaligus hasil panennya dijadikan bibit unggul varietas Saputra.

“Ini merupakan momentum bagi Indonesia bangkit kembali di bidang pertanian. Banyak yang tidak percaya atas hasil produksi varietas ini, tetapi setelah membuktikan, banyak kelompok tani yang menyatakan bergabung dengan Kelompok Tani Saputra,” ujarnya. (*)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: