Oleh: blogs | 14 September 2007

Bulog Kembali ke Peran Lama

Pemerintah mengembalikan peran Bulog sebagai pemimpin pasar (market leader) dan pembentuk harga (price maker) beras di tingkat petani maupun konsumen. Dengan peran itu, Perum Bulog akan lebih leluasa memupuk stok dari pengadaan dalam negeri maupun impor sehingga akan lebih fleksibel bertindak untuk menstabilkan harga beras.

Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar, Rabu (12/9) di Jakarta menjelaskan, selama ini peran Bulog amat dibatasi. Bulog hanya boleh membeli beras dengan harga pembelian pemerintah atau HPP.

Impor beras juga harus seizin Menteri Perdagangan dengan kualitas beras yang sudah ditentukan dan tidak ada variasi.

Belum lagi pelaksanaan operasi pasar (OP) harus menunggu instruksi dari pemerintah, dan pemerintah pula yang menetapkan tingkat harga.

Keterbatasan impor serta minimnya dana pemerintah untuk pengumpulan stok beras membuat Bulog tak banyak berkutik ketika pedagang berspekulasi. Keterlambatan pelaksanaan OP tak jarang menyulitkan Bulog mengendalikan harga.

Sekarang ini, kata Mustafa, Bulog bisa membeli gabah atau beras berdasarkan HPP. Kalau dengan menggunakan harga itu masih belum bisa memenuhi target pengadaan, Bulog dibolehkan membeli gabah atau beras sesuai harga pasar.

Menurut Direktur Operasional Bulog Abdul Waris Patiwiri, Bulog diberi keleluasaan mengimpor beras sepanjang waktu untuk jenis atau kualitas beras yang dibutuhkan melalui pelabuhan di seluruh Indonesia. Stok beras Bulog minimal satu juta ton.

Ahli Peneliti Utama bidang Kebijakan Pertanian pada Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSE-KP) Husein Sawit mengatakan, kewenangan yang dikembalikan ke Bulog meliputi monopoli impor beras. Tahun 1998 peran Bulog dikebiri karena tekanan IMF, tuntutan reformasi, dan rendahnya kepercayaan pemerintah dan publik terhadap Bulog.

Menurut Guru Besar Ilmu Sosial dan Ekonomi Industri Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Maksum, perluasan peran Bulog akan memunculkan berbagai bentuk penyimpangan.

Bulog belum memiliki jiwa kewirausahaan. Selama ini dia hanya mengandalkan hidup dari keuntungan mengelola beras untuk rakyat miskin dan program PSO lain, itu pun kenyataannya di daerah banyak penyimpangan. Dengan peran baru ini, Bulog dikhawatirkan semakin tidak efisien dan banyak penyimpangan.

“Dengan peran sebelumnya saja keinginan Bulog untuk impor beras tidak terbendung, apalagi dengan kewenangan impor yang tanpa batas. Bulog tidak akan peduli lagi dengan petani,” katanya. (MAS)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: