Oleh: blogs | 18 September 2007

Mandiri-BNI Diusulkan Dimerger

Dua bank BUMN, Bank Mandiri Tbk dan Bank BNI Tbk diusulkan merger. Bank hasil merger akan menjadi bank beraset sangat besar dengan jaringan kantor cabang yang sangat luas dan mampu bersaing dengan bank-bank asing yang menyerbu Indonesia. Gagasan itu disampaikan Direktur Perencanaan Strategis dan Humas Bank Indonesia, Budi Mulya, saat menyampaikan visi dan misi dalam uji kelayakan dan kepatutan calon deputi gubernur Bank Indonesia di Komisi Keuangan dan Perbankan DPR di Jakarta, Senin (17/9). Budi beralasan, usulan merger antara lain didasari kesamaan jenis layanan perbankan yang dimiliki Mandiri dan BNI yang saling tumpang tindih.

“BNI dan Bank Mandiri sama-sama berorientasi sebagai bank komersial. Untuk memperkuat aspek kelembagaan dan operasional, saya mengusulkan dimerger,” kata Budi Mulya. “Ini akan mengantarkan bank hasil merger menjadi bank yang kuat, besar dan sehat yang mampu menjadi flag carrier perbankan Indonesia untuk bersaing di industri perbankan global,” lanjut Budi Mulya.

Ia menambahkan, bank hasil penggabungan BNI dengan Mandiri diyakininya menjadi bank pionir dalam aktivitas universal banking. Yakni, bank yang mampu menyediakan seluruh jenis layanan jasa finansial yang dibutuhkan nasabah modern yang semakin kompleks. Tidak hanya yang bersifat murni layanan perbankan, tapi juga layanan yang sudah merambah pada bancassurance sampai produk-produk yang berkaitan dengan sekuritas. Budi Mulya menyebutkan, penggabungan BNI dengan Mandiri akan sangat membantu upaya Bank Indonesia sebagai bank sentral bersama Pemerintah dalam melakukan financial deepening dalam menjaga stabilitas sistem keuangan dan moneter.

Bank Mandiri saat ini tercatat sebagai bank beraset terbesar di antara seluruh bank lokal dan asing yang beroperasi Indonesia. Sampai dengan akhir semester II 2007 Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp 2,140 triliun meningkat 163 persen dari pencapaian periode yang sama di tahun 2006.

Budi juga mengusulkan agar Pemerintah sebagai pemegang saham terbesar tetap mempertahankan keberadaan Bank BRI Tbk dan Bank Tabungan Negara (BTN). Budi menilai, keberadaan  kedua bank sangat strategis karena menjalankan fungsi sebagai policy banking. Yakni, bank yang menyediakan layanan pembiayaan berjangka panjang atau pembiayaan untuk tujuan atau sektor ekonomi tertentu. Disebutkan Budi, Bank BRI dan Bank BTN sudah menjalankan fungsi sebagai policy banking. (Persda Network/fin)


Responses

  1. sangat setuju saran itu. tapi bisa terwujud ngk?

  2. Usulan merger BNI-Mandiri tidak mudah mengingat kedua bank BUMN tersebut memiliki jejaring yang sangat kuat dan luas baik di dalam maupun di luar negeri. Sampai saat ini pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas kedua bank tersebut masih menimbang-menimbang opsi konsolidasi yang paling tepat bagi kedua bank tersebut : merger atau membentuk holding company.
    Berbeda dengan bank-bank swasta yang kompleksitasnya lebih rendah, bank-bank BUMN memiliki kompeksitas tinggi sehingga opsi konsolidasi yang akan diterapkan harus mempertimbangkan banyak aspek dan variabel, termasuk aspek finansial dan sosial. Bagaimanapun juga rencana merger kedua bank tersebut berdampak serius terhadap perekonomian nasional. Pertama, merger akan menimbulkan high financial cost bagi pemerintah terutama dengan pemberian pesangon (golden shake hand) bagi para pegawai yang di-PHK. Kedua, akan terjadi lonjakan pengangguran yang tinggi akibat gelombang PHK secara nasional dari pegawai bank-bank yang dimerger. Dalam kondisi ekonomi makro saat ini yang masih kurang baik gagasan untuk melakukan merger bukanlan opsi yang bijaksana. Bisa dibayangkan angka pengangguran dan kemiskinan di Indonesia semakin tinggi. Bukankah saat ini pemerintah sudah kewalahan menurunkan angka pengangguran dan kemiskinan di negeri ini? Apa jadinya jika pemerintah menerapkan kebijakan yang justru meningkatkan kemiskinan dan pengangguran. Bisa dibayangkan dampaknya bagi perekonomian nasional. Ujung-ujungnya semakin menjatuhkan kredibilitas pemerintah di mata rakyat yang memang sudah jatuh.
    Kalau dilihat dari tujuan merger, yakni meningkatkan struktur permodalan yang lebih kuat dan memudahkan BI dalam mengontrol operasional perbankan melalui kebijakan single presence policy dan Arsitektur Perbankan Indonesia (API), maka benefit yang didapat pemerintah lebih kecil daripada cost yang dikeluarkan.
    Sampai saat ini belum ada kajian resmi dari pemerintah yang dipublikasikan menyangkut cost and benefit dari kebijakan merger antar bank. Pemerintah masih dalam tahap menimbang-nimbang dampak kebijakan merger. BI melalui pernyataan tak resminya terus mendesak merger kedua bank tersebut segera dilaksanakan. Namun decision makernya tetap pemerintah karena pemerintah adalah pemegang saham mayoritas. Jangan sampai keputusan ini dimanfaatkan oleh segelintir pihak untuk kepentingan sesaat dengan mengorbankan kepentingan nasional yang lebih besar.

  3. sebenarnya memang dengan mergernya BNI-Mandiri akan membuat Indonesia memiliki Bank dengan asset hampir 50 triliun, untuk menjadi bank berskala internasional, sesuai Arsitektur Perbankan Indonesia.
    tetapi jika ditinjau dari aspek sejarah, saya kira dengan menggabungkan BNI-mandiri dan membentuk bank baru, akan menghapus sejarah bangsa ini yang masih ada (salah satunya), yaitu bahwa BNI adalah Ibu kandung dari Bank sentral kita yaitu Bank Indonesia, dimana BI dilahirkan dari rahim ‘BNI’. dengan punahnya BNI akan mengikis sejarah kita, perjuangan para pahlawan ekonomi kita, akan berdirinya BNI yang ikut turut andil dalam masa perjuangan dahulu.
    Jadi mari kita jaga sejrah sejarah bangsa yang masih ‘tersisa’, sebagai bukti kepada anak cucu kita bahwa kita dahulu memiliki bank yang besar, bank kebanggaan bangsa, bank yang lahir dari perjuangan para pahlawan ekonomi kita, bank yang melahirkan Bank Sentral di republik ini, dan bank itu masih tetap kokoh berdiri sebagai saksi sejarah bangsa ini….

  4. Sebaiknya BNI jangan dimerger karena memang akan menghilangkan sejarah perjuangan bangsa ini . Dari BNI lahirlah hari keuangan dan merupakan bank pertama yang mencetak ORI. Sekiranya pemerintah perlu mempertimbangkan hal ini kecuali kalau pemerintah ingin menghapus sejarah. Tapi ingatlah kata-kata presiden 1 Soekarno dalam pidatonya yang terkenal disebut JASMERAH ( JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH)

  5. Gue nasabah BNI & MANDIRI,bagi gue nggak masalah 2 Bank tsb mau Merger…Yang gue minta sih nggak muluk2x Yang penting gue sebagai nasabah… utk setiap pengajuan aplikasi dipermudah,Layanan harus..harus.. diperbaiki..keamanan uang gue terjamin….intinya Gue dukung kalo BNI & MANDIRI Merger………….sekarang tinggal petinggi2x masing2x Bank tsb mau nggak Merger…..?

  6. BNI…MANDIRI ….mau Merger??????????..??????????
    Monggo….tapi nanti nama Banknya jangan BNI/MANDIRI….Nama & Logo harus diganti O.K…,,,,,, Maju terus…pantang mundur!!!!!!! Jangan kalah ama Bank asing….

  7. BNI jangan digabung/merger lah, biarlah seperti ini adanya. toh BNI sudah menjadi Bank besar tanpa perlu merger. bikin repot pemerintah dalam mengatur pegawai akibat merger. jadi kesimpulannya TOLAK MERGER BNI DENGAN MANDIRI, SETUJU ASALKAN BNI MENGAKUISISI MANDIRI !!!!!! Gimana ? setujukan
    Karena BNI sebagai bank yg memiliki sejarah beda dengan Mandiri yang baru tumbuh seperti anak kecil yang baru balajar berjalan dibandingkan dengan BNI yang sudah lama. iyakan

  8. Penggabungan BNI Mandiri, jika tujuannya untuk penguatan asset dan efisiensi adalah sangat baik. Namun demikian, sebagai bank pemerintah yang nota bene pemiliknya ‘rakyat’ kedua bank tersebut merupakan salah satu pundi2 partai politik. Ketika kedua bank tersebut belum bergabung, sudah banyak kasus bernuansa politik yang ujung2nya write off, sebagai catatan saja BNI pernah menjadi bank dengan NPL tertinggi di Indonesia. Bisa dibayangkan, dengan total aset 500 triliun nanti kedua bank tersebut akan menjadi sumber dana partai politik yag lebih empuk, karena dana yang dimabil menjadi lebih ‘tidak kelihatan’ karena aset yang besar. Menanggapi Laba Mandiri Rp2,14 T dan Rp 3,2 triliun 9 bulan, tidak bisa dibanggakan karena, BCA saja yang memiliki asset 1/3 Mandiri bisa membukukan laba Rp1,062/4 bulan, setara Rp2.3895T dalam periode waktu yang sama. Menurut hemat saya, jika ingin melakukan merger sebaiknya dicarikan beberapa bank yang memiliki kekhususan berbeda untuk dimerger sehingga hasil merger adalah bank yang efisien yang memiliki banyak kelebihan, misalnya bank pemerintah spsesialisasi mikro digabung dengan korporat sehingga dana bank untuk korporat yang sekarang banyak diparkir dalam SBI bisa disalurkan dalambentuk kredit mikro. Intinya, merger yang dilakukan menghasilkan bank sehat, efisien, dan sinergi lain yang menguntungkan.

  9. Bank boleh merger……..tapi gimana nasib karyawannya??
    Ada solusi ga’ buat mereka yang bakal terkena imbas dari kebijakan pemerintah?? itu yang perlu dan sangat penting dipertimbangin oleh pemerintah

  10. Banyak Bank2 akan di merger untuk jd anchor bank!bagus juga untuk meningkatkan kualitas dan performa perbankan indonesia kita..tp apakah dengan adanya merger, konsolidasi tersebut maka perbankan kita benar-benar bisa bersaing dengan bank2 internasional,apa lagi tingkat NPL dari 2 bank ber plat merah itu masih tergolong di atas 5 % alias memiliki andil yang besar dalam kredit bermasalah di perbankan nasional kita, tapi jikalau kedua bank tersebut benar jadi bank jangkar kita semua pasti berharap agar perbankan kita hanya diisi oleh bank2 yang terbaik..dan peraturan-peraturan harus tegas dibuat agar bs dilaksanakan dengan baik juga.. sukses u/ perbankan indonesia..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: