Oleh: Palimbani | 19 September 2007

“Holding” Perkebunan Selesai 2007

Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sofyan Djalil mengungkapkan, pembentukan holding atau perusahaan induk seluruh perusahaan perkebunan negara diharapkan selesai akhir tahun ini. Hasil studi pembentukan holding perkebunan negara telah selesai, proses pembentukannya tinggal menunggu koordinasi dengan menteri terkait.

Demikian diungkapkan Sofyan di Medan, Minggu (16/9), dalam acara silaturahmi dan buka puasa bersama Federasi Serikat Pekerja Perkebunan Nusantara. “Dari hasil studi ini, kami bisa segera menetapkan holding PTP Nasional. Desainnya sudah kami bicarakan di tingkat menteri,” ujarnya.

Perusahaan induk perkebunan negara ini, lanjut Sofyan, juga akan berbentuk semacam holding investment, di mana ekspansi berupa perluasan lahan menjadi salah satu tugas utamanya.

“Ke depan, akan ada semacam fungsi investasi dari holding PTP ini, karena pembentukannya bisa menjadi semacam ekuitas bagi perusahaan perkebunan untuk meminjam modal ke bank dalam rangka ekspansi atau perluasan kebun. Selama ini meski bank menyediakan dana Rp 7 triliun, tidak ada satu pun PTP yang berani mengambilnya,” ujarnya.

Meski mengakui di antara 14 PTPN yang ada, salah satu yang memiliki kinerja keuangan terbaik adalah PTPN III dan PTPN IV di Sumatera Utara, Sofyan masih belum bisa menentukan, lokasi perusahaan induk tersebut. “Untuk sementara soal lokasi ini masih belum bisa kami tentukan dulu,” katanya.

Menneg BUMN menuturkan, pembentukan holding perkebunan juga menjadi salah satu langkah untuk menyehatkan beberapa PTP yang selama ini kinerja keuangannya buruk. “Hampir semua PTP sekarang ini perlu modal untuk perluasan kebun dan replanting (peremajaan tanaman). Kondisinya sekarang, jangankan untuk ekspansi, malah banyak PTP yang terlambat replanting karena tidak punya uang,” ujarnya.

Ekspansi, menurut Sofyan, menjadi langkah penting bagi PTPN jika ingin bertahan dalam persaingan dengan perkebunan swasta atau asing. Ketidakberanian direksi PTPN mengambil kredit revitalisasi yang disediakan BUMN perbankan, lanjut Sofyan, hanya akan dimanfaatkan perusahaan perkebunan swasta atau asing. “Kalau begini terus, suatu saat nanti sepanjang perjalanan di Kalimantan, perkebunan di sana hanya dikuasai pihak asing,” katanya.

Menurut Direktur Utama PTPN IV, Dahlan Harahap, salah satu permasalahan yang dihadapi perkebunan adalah beban tenaga kerja. “Hampir rata-rata labour cost yang mencapai 50 persen. Satu-satunya mengatasi ini, direksi harus bekerja sama dengan serikat pekerja,” ujarnya. (kompas)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: