Oleh: Palimbani | 15 Oktober 2007

Lebaran dan Konsumsi

Lebaran dan Konsumsi
MUHAMMAD CHATIB BASRI

Optimisme memang tak punya banyak sahabat dalam perekonomian Indonesia. Namun, ada pertanda ekonomi mulai bergerak lebih cepat dalam beberapa bulan terakhir.

Harian Kompas (9/10), misalnya, mencatat penjualan ritel yang luar biasa dalam sepekan menjelang Lebaran. Omzet 162 kios pakaian dan aksesori melonjak 50-300 persen. Omzet beberapa pusat penjualan ritel lain pun meningkat hampir dua kali lipat.

Apa artinya ini bagi ekonomi kita? Penjualan ritel adalah indikator pendahulu (leading indicator) dari konsumsi nonmakanan. Naik-turunnya penjualan ritel dapat menjadi indikasi awal naik turunnya konsumsi nonmakanan, yang dapat dipengaruhi oleh ekspektasi.

Ketika konsumen mulai pesimistis terhadap situasi ekonomi di masa depan, yang pertama-tama dikurangi adalah nonmakanan, dan bukan konsumsi makanan. Sebaliknya, ketika perekonomian mulai membaik, konsumsi nonmakanan cenderung meningkat. Itu sebabnya konsumsi nonmakanan cenderung berfluktuasi, sedangkan konsumsi makanan cenderung stabil. Oleh karena itu, indikasi dini tentang naik turunnya konsumsi nonmakanan dapat membantu kita untuk membaca situasi perekonomian.

Bisakah kita sedikit optimistis dengan indikasi dini ini? Tak terlalu salah bila harapan mulai muncul. Tengok saja pada triwulan II-2007 dibandingkan dengan periode sama tahun silam, ekonomi tumbuh lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak pihak, yakni 6,3 persen. Kecenderungan ini tampaknya masih akan berlanjut.

Konsumsi juga diperkirakan akan menguat dalam triwulan ketiga tahun ini. Tak berhenti di sana, penyaluran kredit bank mulai membaik. Per Juli 2007, misalnya, kredit investasi tumbuh 25 persen lebih tinggi dibandingkan dengan kredit modal kerja yang tumbuh 22,1 persen dan konsumsi 18,6 persen.

Sampai Agustus 2007, ekspor nonmigas tumbuh 19 persen. Tentu hal ini juga karena nasib baik meningkatnya harga komoditas di pasar internasional. Dengan kondisi itu, pemerintah memperkirakan ekonomi akan tumbuh 6,2-6,4 persen pada triwulan ketiga. Saya kira, ada rasionalitas di balik perkiraan ini.

Lalu apakah aktivitas mudik dan peningkatan aktivitas ekonomi pada masa puasa dan Lebaran ini akan berlanjut serta mendorong pertumbuhan ekonomi 2007 secara signifikan? Baik bila kita berhati-hati menyimpulkan dan mencermati beberapa hal.

Pertama, dampak mudik terhadap ekonomi lokal masih relatif terbatas. Satu-satunya titik singgung aktivitas “ekonomi puasa dan Lebaran” dengan perekonomian keseluruhan adalah jasa transportasi dan konsumsi ritel.

Data historis menunjukkan adanya kenaikan penjualan ritel, terutama kelompok barang kerajinan, makanan, dan pakaian, selama Ramadhan dan Lebaran. Sayangnya, hal itu tak diimbangi dengan kenaikan produksi. Peningkatan penjualan lebih mengandalkan penggunaan stok dan lebih merupakan fenomena sisi permintaan.

Konsisten dengan ini, permintaan uang kartal juga meningkat tajam setiap Lebaran, yang mencerminkan peningkatan aktivitas transaksi. Karena itu, dampak ekonomi dari puasa dan Lebaran lebih bersifat sementara dan merupakan fenomena sisi permintaan ketimbang kenaikan produksi. Itu sebabnya kita harus berhati-hati terhadap meningkatnya tekanan inflasi saat puasa dan Lebaran.

Kedua, jika peningkatan penjualan ritel dalam dua bulan terakhir lebih bersifat sementara, apakah ini berarti konsumsi ke depan akan menurun lagi? Barangkali peningkatannya memang tak akan setajam dalam periode puasa dan Lebaran, tetapi masih cenderung menguat.

Tengok indikator dini: konsumsi listrik tumbuh lebih dari 7 persen, penjualan mobil meningkat 47 persen, dan pertumbuhan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) domestik riil meningkat di triwulan ketiga. Jika pertumbuhan PPN riil naik, berarti aktivitas ekonomi meningkat.

Apa yang mendorong peningkatan ini? Inflasi yang terkendali meningkatkan daya beli riil dan juga berdampak kepada kekayaan (wealth effect).

Tak puas

Namun, kita harus agak hati-hati dengan argumen ini karena proporsi investasi portofolio dalam keuangan rumah tangga—walau mulai meningkat— masih relatif terbatas. Peran pembiayaan (kredit konsumsi) juga mendorong meningkatnya konsumsi secara tajam. Keputusan mengambil kredit konsumsi biasanya dipengaruhi ekspektasi bakal membaiknya pendapatan.

Mudahnya, jika tahu pendapatan akan naik pada masa depan, kita cenderung meningkatkan konsumsi saat ini, terutama nonmakanan. Dari sisi ini kita bisa sedikit optimistis perbaikan memang sudah mulai.

Ketiga, walau ada pertanda ekonomi mulai bergerak, kita tak boleh puas. Dekomposisi sumber pertumbuhan menunjukkan 4,1 persen dari total pertumbuhan 6,3 persen pada triwulan-II (atau 65 persen dari sumber pertumbuhan) berasal dari sektor non-traded seperti utilitas, konstruksi, perdagangan, perbankan, telekomunikasi, dan jasa lainnya.

Repotnya, penyerapan tenaga kerja di sektor ini kecil dibandingkan dengan sektor tradable.

Dari sisi pengeluaran, sumber pertumbuhan terutama didorong sisi permintaan, yaitu konsumsi, dan karena membaiknya ekspor akibat perbaikan harga internasional. Adapun investasi relatif tak meningkat. Artinya, ekonomi didorong permintaan yang semakin membaik, sedangkan sisi penawaran masih menjadi persoalan.

Keempat, pembangunan infrastruktur mutlak untuk meningkatkan kapasitas sisi penawaran. Namun, berbeda dari persepsi yang kuat muncul selama ini, efektivitas proyek infrastruktur untuk menyediakan lapangan kerja secara langsung sebenarnya terbatas.

Premis pembangunan infrastruktur akan secara langsung menyelesaikan masalah pengangguran hanya benar sebagian. Penciptaan lapangan kerja dari proyek infrastruktur akan bermanfaat bagi program pemberantasan kemiskinan, tapi tak sepenuhnya cocok bagi penciptaan lapangan kerja untuk mereka yang berpendidikan.

Mereka yang berpendidikan relatif baik cenderung memilih bekerja pada sektor formal. Dan penyerapan pekerja ke sektor formal hanya akan terjadi jika ekonomi di sektor formal, terutama manufaktur padat karya serta sektor jasa yang membutuhkan tenaga kerja terampil, tumbuh cepat. Kekakuan pasar tenaga kerja yang mencegah masuknya orang ke sektor formal harus diatasi. Kombinasi penciptaan lapangan kerja melalui proyek infrastruktur dan sektor formal harus dilakukan.

Ekonomi memang mulai tumbuh! Kita punya cukup alasan untuk optimistis pada tahun 2007 dan 2008. Namun, ada baiknya kita juga mencatat: persoalan di depan tak kurang banyaknya. Bila tak hati-hati, kita akan memadamkan optimisme tersebut. [kompas-online]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: