Oleh: Palimbani | 22 Oktober 2007

Kembali ke Pertanian

Investasi yang lebih besar pada sektor pertanian sangat vital untuk mengatasi kemiskinan di negara berkembang, termasuk Indonesia. Bank Dunia memperhitungkan, target penurunan tingkat kemiskinan dan kelaparan yang parah pada 2015 takkan tercapai jika sektor pertanian dan pedesaan terabaikan.

Perhitungan tersebut disampaikan dalam Laporan Pembangunan Dunia (World Development Report/WDR) terbaru bertajuk “Pertanian untuk Pembangunan” yang diluncurkan Bank Dunia di Washington DC, Sabtu (20/10).

Bank Dunia mencatat, kemiskinan di kawasan pedesaan menyumbang 82 persen dari total kemiskinan di negara-negara berkembang. Presiden Bank Dunia Robert B Zoellick mengingatkan pentingnya fokus lebih besar pada sektor pertanian mengingat terjadinya tekanan populasi, penyusutan lahan pertanian, kelangkaan air dan kontaminasi lingkungan, serta kebutuhan untuk membangun daerah miskin yang tertinggal.

Pada periode 1995-2003, pertanian menyumbang rata-rata 7 persen terhadap pertumbuhan PDB di negara-negara berkembang, seperti China, India, Indonesia, dan Thailand. Padahal, sektor itu mencakup sekitar 13 persen perekonomian dan mempekerjakan lebih dari separuh tenaga kerja yang ada.

Meski begitu, laporan WDR menyebutkan, di negara-negara berkembang, bertani masih merupakan cara paling efektif untuk meningkatkan pendapatan masyarakat miskin pedesaan. Bagi masyarakat termiskin, pertumbuhan PDB yang berasal dari pertanian empat kali lipat lebih efektif untuk mengurangi kemiskinan dibandingkan sektor lain.

“Secara historis, pertumbuhan di sektor pertanian juga paling efektif memberantas kemiskinan di Indonesia,” ujar Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia Joachim von Amsberg.

Akan tetapi, pengembangan strategi baru dalam investasi di sektor pertanian menjadi krusial karena sebagian besar petani menggarap lahan yang sempit (rata-rata seluas kurang dari setengah hektar). Hasil panen komoditas pertanian utama selama ini cuma sedikit menyediakan peluang penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan pendapatan.

Strategi baru yang dibutuhkan, kata Joachim, antara lain berpindah dari pertanian tanaman dan ternak bernilai rendah ke produk bernilai tinggi. Fokus terhadap pasar domestik pun perlu dialihkan ke pasar internasional, dengan tetap mempertahankan pasokan pangan yang cukup.

Fasilitas pergeseran sektor pertanian ke agroindustri dan sektor nonpertanian di pedesaan juga dipandang amat penting. “Tantangan (sektor pertanian) sangat penting dihadapi, terkait perubahan iklim dan dampaknya terhadap keseluruhan lahan, pola penggunaan air, serta produktivitas pertanian,” ujarnya.

Pada laporan ini antara lain dikemukakan kajian bahwa kehidupan petani tradisional dapat ditingkatkan dengan mempertinggi produktivitas tanaman pangan utama di daerah-daerah tertinggal. Upaya itu membutuhkan investasi besar dalam pengelolaan lahan dan air serta penelitian pertanian. Hal ini juga mensyaratkan adanya perbaikan iklim investasi agrobisnis.

WDR menyatakan, prioritas utama bagi negara berkembang adalah pengurangan dampak lingkungan dari pertanian intensif, terutama produksi agrokimia dan limbah hewan. Diserukan reformasi institusi yang mengurus irigasi serta penghentian subsidi air dan listrik. (*/DAY/kmps)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: