Oleh: blogs | 22 Oktober 2007

Mengenal Zaenal Soedjais

Zaenal Soedjais
Sang CEO Bermata Elang

Dia CEO (chief executive officer) berlatar akuntan bermata elang yang dalam beberapa menit saja bisa menemukan kelebihan dan kekurangan sebuah laporan keuangan. CEO bertangan dingin dengan mengandalkan kemampuan akademis, pemilik dua gelar sarjana (akuntansi dan perusahaan) dari Fakultas Ekonomi UGM, ini menanamkan tujuh etos kerja sebagai agenda manajemen korporasi yakni etos keutamaan, responsif, disiplin, kerja keras, kreatif, bersih dan positive thinking. 

Zaenal
Nama:
Zaenal Soedjais
Lahir:
Cirebon, 10 Agustus 1942
Agama:
Islam
Istri:
Sri Afifah (menikah 4 September 1971)
Anak:
1. Mohammad Zain Mawardi Arif
2. Laksmi Yuliandri
3. Dodi Surya Wijaya (Ahli Computer)
4. Hartina Riani Sofana (seorang artis yang sudah mengeluarkan album –‘Benang Merah’
Ayah:
H. Abdullah Harun (Alm)
Ibu:
Sofia Atmi (Alm) Saudara Kandung:
Anak kelima dari sembilan bersaudaraPendidikan Formal:
1. Sarjana Ekonomi, UGM Jogya, selesai 1967
2. Sarjana Akuntansi, UGM Jogya, selesai 1969
3. International Management Development Program Syracuse University, New York USA, selesai 1973
4. Course on Auditing and EDP Audit, Kuala Lumpur 1974
5. Course on Public Enterprise, Harvard Business School
Boston USA, 1981
6. Course on Privatization, Monash University, Sydney, Australia 1996.Pendidikan Non Formal:
1. Berbagai macam training di dalam Perusahaan
2. Berbagai macam training di Departemen Perindustrian, Keuangan, LAN, Lemhanas, Depnaker dll.
3. Berbagai seminar, lokakarya, symposium, dsb.Pengalaman Kerja:
1. 1965: Asisten Dosen
2. 1967 -1981: Dosen di berbagai Perguruan Tinggi, seperti:
a. Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta Fakultas Sospol UGM Yogyakarta
b. Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (Ull) Yogyakarta
c. Fakultas Ekonomi Proklamasi Yogyakarta
d. Fakultas Ekonomi Admadjaja Yogyakarta
e. UPN Veteran Yogyakarta dan Surabaya
f. Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang
g. FKK Universitas Brawijaya Malang
h. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Djember3. 1967 -1970: Tenaga Konsultan Management Center UGM
4. 1969: Pegawai Kantor Akuntan ‘ Chairul Anwar ‘ Yogyakarta
5. 1970-1981: Pegawai PT Semen Gresik ( sebagai Kep & Pengawasan / Comptroller, dan kemudian Staf Ahli Direksi )
6. 1975-1980: Anggota Komisaris PT. Eternit Gresik
7. 1981-1983: Direktur Keuangan dan Komersil PT. Semen Madura.
8. 1983-1995: Direktur Keuangan dan Komersial PT. Pupuk Kalimantan Timur .
9. 1994-1995: Presiden Komisaris PT. Kaltirn Parna Industri ( Proyek I Pabrik Ammonia )
10. 1992-1994: Presiden Komisaris PT. Kaltirn Methanol Industri ( Proyek Pabrik Methanol)
11. 1995 -Juni 2001 : Presiden Direktur PT. Asean Aceh Fertilizer
12. 23 Mei 2001 -Sekarang: Direktur Utama PT. Pusri Holding

Organisasi:
1. Pengurus PSSI Pusat, Bidang Penegakan Disiplin
2. Ketua Pengda PBVSI Propinsi Kalimantan Timur
3. Ketua Ikatan Akuntansi Indonesia, Kompartemen I Akuntan Management
4. Wakil Ketua Kompartemen KADIN Indonesia Bidang Tenaga Kerja dan
Lingkungan Hidup
5. Ketua Perhimpunan Industri Kimia, ASEAN
6. Bendahara Badan Dakwah Pembangunan Agama Islam (Organisasi di bawah MUI )
7. 1998 -. 2002 Ketua Urnurn IAI (Ikatan Akuntan Indonesia)

Organisasi Sekarang:
1. 2002-sekarang Ketua Dewan Penasehat IkatanAkuntan Indonesia
2. 1996- sekarang Ketua Perhimpunan Industri Kimia Indonesia
3. 1998- sekarang Wakil Ketua IFA (International Fertilizer Association)
4. 1996- 2001Wakil Ketua Presidium Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI)
5. 25-11-2001- sekarang Ketua Presidium Presidium Asosiasi Produsen Pupuk
Indonesia (APPI)
6. 1999- sekarang Anggota Dewan Pertimbangan KADIN Indonesia
7. 2000-sekarang Wakil Ketua ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia)
8. Tahun 2001- 2005 Ketua Dewan Penyantun Institut Teknologi Indonesia (ITI)

Alamat Rumah:
Jl. Taman Radio Dalam Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Alamat Kantor:
Gedung PUSRI Lt. 7
JI. Taman Anggrek, Kemanggisan Jaya Jakarta Barat 11480, Indonesia
Telepon : (021) 5480211,5480155 Fax :(021)5480607,5305272

Pria kelahiran Cirebon 10 Agustus 1942, ini selain piawai membangun dan meningkatkan kinerja perusahaan juga selalu berupaya membangun komunitas masyarakat baru di lingkungan perusahaan yang dipimpinnya. Hal ini dibuktikan dalam lebih dua dekade ia terus dipercaya pemerintah memimpin di beberapa BUMN ternama.

Dua di antaranya sebagai direktur, yakni, Direktur Keuangan dan Komersil PT Semen Madura tahun 1981-1983, dan Direktur Keuangan dan Komersil PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) tahun 1983-1995. Dua lagi sebagai pemimpin tertinggi, yakni Presiden Direktur PT Asean Aceh Fertilizer (AAF) tahun 1995-Juni 2001 dan Direktur Utama PT Pupuk Sriwijaya (Pusri), Palembang (holding company), sejak 23 Mei 2001.

Bersamaan itu, dia juga dipercaya memegang beberapa jabatan penting lain, yakni jabatan ex-officio yang timbul karena posisinya sebagai direksi di sebuah perseroan. Misalnya, ketika menjabat direksi PT Pupuk Kaltim, ia juga Presiden Komisaris PT Kaltim Parna Industri (Proyek I Pabrik Amonia) antara tahun 1994-1995, dan Presiden Komisaris PT Kaltim Methanol Industri (Proyek Pabrik Methanol) antara 1992-1994.

Lalu, ketika masih menjabat Kepala Pengawasan Comptroller yang kemudian dipromosikan menjadi Staf Ahli Direksi PT Semen Gresik sepanjang tahun 1970-1981, ia dipercaya menjadi komisaris PT Eternit Gresik antara 1975-1980. Beberapa jenjang pekerjaan dan jabatan lain yang pernah dia tekuni dari bawah telah membuatnya makin kaya dan matang akan berbagai pengalaman serta kemampuan manajemen bisnis.

Terasuh Bekerja Keras

Kejelian dan kemampuan manajemen bisnis yang dimilikinya, selain didukung latarbelakang akademis juga terasuh dari latarbelakang keluarga. Dari sejak kecil ia diasuh dalam keluarga pedagang yang terbiasa bekerja keras. Ayah-budanya, H. Abdullah Harun dan ibu Sofia Atmi adalah pedagang.

Ayahnya berdagang di rumah, sementara ibunya berdagang di pasar dan tidak pernah menutup tempat dagangannya. Kalau ditanya, kenapa harus buka terus? Jawaban Sang Ibu, bermakna sosial dan komersial: “Kalau ditutup, kasihan orang itu. Ibu tidak hanya cari uang. Di samping itu, kalau hari ini ditutup, mereka akan membeli dari tempat lain. Kalau mereka sudah cari dari tempat lain, habis kita.”

Kedua orang tuanya tidak memiliki pendidikan formal yang memadai. Walau demikian, keduanya berhasil mendidik kesembilan anak-anaknya menjadi orang-orang yang berdisiplin, bekerja keras dan berpendidikan tinggi. Kedua orangtua yang telah almarhum itu juga memberi contoh kepada anak-anaknya supaya menjadi hamba Tuhan yang rajin berzakat, bersedekah dan bersilaturahmi.

Zaenal Soedjais, anak kelima, misalnya, sejak dari masa kecil telah dididik menjadi seorang pekerja keras. Di antara saudara-saudara sekandung ia adalah anak yang paling dekat dan paling lama hidup bersama kedua orangtuanya. Banyak saudara sekandungnya menginjak SMA sudah harus pindah mondok ke tempat lain.

“Jadi, masa kecil saya penuh bersama dan kumpul dengan orangtua yang memang sangat pekerja keras, yang membuat saya jadi ikut kerja keras,” kenang Soedjais. Saban hari pukul setengah lima pagi, Soedjais kecil sudah bangun dari tidur untuk membantu ibunya berdagang di pasar. Juga mempersiapkan dagangan ayahnya yang membuka toko di rumah.

Soedjais kecil itu sudah terbiasa manggul-manggul barang berat, yang untuk ukuran seusia dan sebesar badannya, jauh dari seimbang. Ia sudah memanggul beban 20 kilogram saat masih kanak-kanak berusia 10 tahun atau kelas 4 SD.

Ketika mulai memasuki usia praremaja, ia melanjutkan pendidikan ke SMP Muhammadiyah, Cirebon, yang jaraknya 17 kilometer dari rumah kediaman. Sebab hanya sekolah itu yang tersedia. Jam pelajaran siang hari. Sebagaimana biasa, di pagi hari, ia harus pergi ke pasar membantu ibunya. Lalu menginjak pukul 11.00 siang mulailah dia mengayuh sepeda sejauh 17 kilometer menuju sekolah.

Total setiap hari, ia harus “berolahraga” sepeda 34 kilometer tanpa peduli cuaca panas terik atau hujan deras. Kejadian bolak-balik bersepeda 34 kilometer sambil dan membawa pulang titipan belajaan rutin ia lakukan selama enam tahun penuh. Sebab ia melanjukan sekolah di SMA Muhammadiyah, Cirebon, di lokasi yang sama.

Pulang sekolah, beban sepedanya masih ditambah barang belanjaan titipan ayahnya untuk dijual di toko. “Maka, pulang sekolah, saya bawa barang macam-macam di sepeda. Percis seperti loper-loper itu,” kenang Soedjais.

Ayah dan ibunya sangat percaya dan memberikan kebebasan penuh kepadanya. Setiap malam hari, saat menghitung uang hasil penjualan dan pembelanjaan, tak sedikitpun orangtuanya mencurigai bahwa ia akan mengambil uang itu. Di sisi lain, dengan kepolosan hati dan kejujuran seorang anak desa, ia juga tak pernah berpikiran mencuri uang ayah-ibunya. Di usia dewasa, ia baru menyadari, “Dulu, kok ayah dan ibu begitu percaya pada saya nyimpan uang begitu banyak?”

Kedua orangtuanya juga tidak mau terlalu jauh mencampuri urusan pendidikan anak-anaknya. Yang penting, anak-anak menjalankan tugas-tugas di rumah, setelah itu sekolah yang baik. Selebihnya sudah menjadi urusan anak sendiri. Model kebebasan berpikir yang tanpa paksaan demikian itu memberikan dorongan tersendiri, daya kritis, dan tingkat kepercayaan diri yang tinggi baginya. Ia membandingkan, model mendidik anak dari ayah dan ibunya itu dirasakan lebih benar daripada mendidik anak-anak terlalu masuk, detail mengatur ini dan itu.

Pembenaran terhadap model mendidik dari ayah dan ibunya itu, semakin jelas di kemudian hari, setelah dia membaca buku seorang penyair Kristen dari Libanon, Kahlil Gibran. Gibran menyebutkan anak itu seperti anak panah. Setiap orangtua tidak bisa membikin anak seperti diri orangtua atau seperti yang orangtuanya mau. Karena anak adalah seperti anak panah dan orangtua seperti busur. Ke mana busur diarahkan kalau sudah dilepaskan maka anak panahlah yang akan mencari sendiri sasaran yang dipilih tergantung arah angin dari mana.

Ia dijadikan anak panah. Sehingga terciptalah seorang anak desa yang tidak pernah merasa tergantung kepada orang lain. Selalu merasa percaya diri tinggi dan mampu menyelesaikan berbagai hal secara mandiri. Maka, ia pun berniat akan menulis bagaimana metode pendidikan yang terbaik menuju pada seorang anak yang betul-betul menjadi seorang yang berdikari.

Soedjais memiliki kebanggaan atas ayah-ibunya yang membentuk dan memperlakukannya ketika masa muda menjadi seorang pekerja keras. Ketika usia SMP di Cirebon, dia sudah pergi ke Tasikmalaya menaiki mobil gerobak. Ayahnya menyuruhnya mencari berbagai hasil bumi untuk diperdagangkan seperti kelapa, minyak goreng, aci berupa tepung singkong, dan lain-lain.

Dari Cirebon, dia bawa truk kosong kemudian dari Tasikmalaya dia membawa pulang barang-barang seperti kelapa sebanyak delapan ribu hingga sepuluh ribu butir. Semua kelapa itu lalu dia turunkan seorang diri satu demi satu butir. “Wah, kalau saya cerita bagaimana masa kecil saya, waduh… luar biasa. Betul-betul kuli saya. Tetapi, itu semua saya jalani dengan senang hati.”

Ketika SMA cerita menarik lain lagi. Saban pulang sekolah pukul lima atau enam sore, Soedjais bersama seorang kawannya mengayuh sepeda bergantian “Biasanya, kalau pulang, jika kawan saya yang lari maka saya yang pegang sepedanya. Kemudian separoh sisa perjalanan, saya yang lari dan dia yang pegang sepedanya. Itu nggak terasa capek, enjoy saja.”

“Sekarang, jika dipikir-pikir, berarti tiga tahun saya melakukan proses pematangan otot-otot dan kesabaran. Sehingga, alhamdulillah dengan ini saya kemudian di dalam hidup tidak ada sesuatu yang saya anggap berat. Tetapi tidak berarti enteng juga, semua saya anggap biasa. Dan untuk itu semua saya tetap berterimakasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena diberi kesempatan.”

Kuliah Dual Paralel

Setamat SMA di Cirebon, ia sempat memasuki bangku kuliah di Universitas Indonesia (UI), Jakarta, tahun 1961. Namun, karena suasana Jakarta amat sangat berbeda dengan kampung halaman Cirebon, ia memilih meninggalkan Jakarta lalu mendaftar dan mengikuti ujian di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Dia diterima di Fakultas Ekonomi Jurusan Ekonomi Perusahaan (Bisnis). Memasuki kuliah tahun keempat, sebagaimana biasa dialami mahasiswa pandai berintelektual tinggi serta berkepribadian baik, Zaenal dipercaya menjadi Asisten Dosen.

Sebelumnya, ketika FE-UGM membuka jurusan baru akuntansi, ia memberanikan diri mendaftar dan diterima menjadi mahasiswa angkatan pertama. Jadilah dia kuliah secara dual paralel di dua jurusan, bisnis (perusahaan) dan akuntansi. Lulus sebagai sarjana ekonomi perusahaan tahun 1967, dua tahun kemudian di tahun 1969 dia kembali diwisuda sebagai seorang sarjana akuntansi angkatan pertama UGM.

Sebelum ia diwisuda, kuliah rangkap itu sempat dipersoalkan oleh dekan FE-UGM ketika itu, Prof Sukadji Ranuwihardjo, seharusnya itu tidak bisa. Tapi kenyataan, ia sudah menjalani kuliah rangkap dan resmi membayar uang kuliah untuk 2 jurusan. Maka tak ada alasan untuk tidak mewisudanya. Namun kemudian ditegaskan bahwa kuliah rangkap ini sebagai sesuatu yang tak diizinkan.

Tamat kuliah, sebelum terjun sebagai profesional di sejumlah BUMN, ia terlebih dahulu bekerja sebagai tenaga konsultan di Management Center Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, antara tahun 1967-1970, serta sebagai pegawai di kantor akuntan Chairul Anwar Yogyakarta pada tahun 1969. Kedua pekerjaan swasta itu dia lakukan melengkapi pekerjaan resminya sebagai dosen yang mengajar di sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta antara tahun 1967 hingga 1981.

Beberapa perguruan tinggi tempatnya pernah mengajar, antara lain di Fakultas Ekonomi (FE) dan Fakultas Sospol (Fisip) UGM, FE Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, FE Proklamasi Yogyakarta, FE Admadjaja Yogyakarta, UPN Veteran Yogyakarta dan UPN Veteran Surabaya, FE dan FKK Universitas Brawijaya Malang, serta di FE Universitas Negeri Djember.

Sebagai seorang chief executive officer perusahaan yang kental berlatar belakang dunia akademis, ia selalu haus akan pengalaman dan ilmu pengetahuan baru. Bersamaan itu, dia tertantang pula untuk berbagi ilmu dan pengalaman yang dimilikinya kepada orang lain.

Kampus tempatnya mengajar, Universitas Gajah Mada (UGM), hanya berkesempatan mengirimnya belajar ke luar negeri memperdalam ilmu ekonomi perusahaan, yang kurang dia minati, sehingga selalu ditolaknya. Dia menginginkan dikirim berdasarkan disiplin ilmu akuntansi. Kalau untuk jurusan bisnis, any time dia bisa berangkat.

Uniknya, justru setahun setelah bekerja di PT Semen Gresik, oleh perusahaan, ia berkesempatan dikirim ke Amerika Serikat untuk sekolah di International Management Development Program Syracuse University, New York USA pada tahun 1973. Dia mengambil sebuah program jangka pendek, kurang dari 12 bulan. Selama sekolah, dia selalu memperoleh angka bagus.

Setelah itu selesai, dia sesungguhnya masih mendapat kesempatan beasiswa scholarship baru dari Columbia University, Amerika Serikat. Dia lalu meminta ijin kepada bosnya di Indonesia, Sotion Arjanggi, tetapi sayang tidak diperbolehkan. Dia malah disuruh pulang segera ke tanah air untuk menjadi staf ahli direktur utama, padahal masih ingin meneruskan sekolah.

Karena loyal kepada pimpinan dan perusahaan tempatnya bekerja, ia harus memendam keinginan dan cita-citanya meraih gelar doktor atau philosopy degree (Ph.D) yang tinggal beberapa tahun selesai.

Sebagai eksekutif perusahaan keluaran kampus, tentu saja dia sangat berharap berhasil menjadi doktor sebagai perlambang pencapaian puncak pendidikan tertinggi di lingkungan akademis. Tapi keinginan itu harus dipendamnya. Dia mengisi ilmunya dengan cara berbeda. Sepulang dari Amerika, setahun kemudian, dia mengikuti kursus Course on Auditing and EDP Audit, di Kuala Lumpur tahun 1974. Dia juga mendalami kursus Course on Public Enterprise di Harvard Business School, Boston, AS, tahun 1981, kemudian Course on Privatization di Monash University, Sydney, Australia tahun 1996.

Di sepanjang waktu, jika tersedia dan memungkinkan, dia aktif pula mengikuti berbagai macam training, baik di internal perusahaan sendiri maupun di luar, seperti training di Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag), Departemen Keuangan (Depkeu), Lembaga Administrasi Negara (LAN), Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas), Departemen Tenaga Kerja (Depnaker). Demikian pula mengikuti berbagai macam seminar, lokakarya, simposium, dan lain-lain di berbagai tempat di Indonesia dan luar negeri. [ selanjutnya » ] [Karir dan Pengabdian Organisasi]

Laman: 1 2 3 4 5


Responses

  1. gw pernah jd karyawannya p. zaenal soedjais di PT AAF ……. asyik pemikiran dan cara beliau memimpin mejadikan kita semangat untuk bekerja… selamat… pak ….. bravo ……………utk bapak

  2. Sebagai salah satu General Manager di era beliau menjadi Dirut PT Pusri, bekerja bersama beliau dalam satu tim manajemen kami merasa sangat terlindungi dan aman dan kondusif,karena beliau memiliki management style yang unik, selalu berbaik sangka…berfikir postif dan berani melawan arus dalam menegakkan kebenaran yang hakiki. Yang jelas, dalam memanage Pusri, beliau merasa memiliki Pusri lebih daripada orang pusri sendiri. Beliau sangat menentang siapapun pemegang kekuasaan yang policinya akan merugikan dan mengkerdilkan PT Pusri. Sayang beliau tidak diberikan kesempatan yang lama untuk menjadi nahkoda di PT Pusri akibat banyaknya kepentingan pihak-pihak tertentu yang ingin melakukan intervensi di PT Pusri dijegal pak Jais. Sekarang beliau sudah memperoleh gelar Doktor dari Almamaternya (UGM) dan kembali mengajar disana, namun dalam prakteknya kami beranggapan selama ini beliau sudah memiliki kompetensi dan managerial skill yang melebihi seorang Doktor sekalipun, walaupan beliau tidak pernah memperoleh gelar CEO terbaik ? dari Kementerian BUMN…ha..ha..ha… Bravo Pak Jais….doa kami senantiasa menyertai bapak. Amin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: