Oleh: blogs | 24 Oktober 2007

Investor Asing Minati Panas Bumi

Pemerintah Islandia sedang menjajaki kerja sama pengembangan energi panas bumi di Indonesia. Nota Kesepahaman atau MOU untuk kerja sama tersebut dilakukan oleh Reykjavik Energy Invest dengan PT Pertamina Geothermal Energy di Jakarta, Selasa (23/10).

MOU kerja sama pemerintah kedua negara diteken Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Industri dan Energi Islandia Ossur Skarpheoinsson. Sementara itu, MOU kerja sama bisnis ditandatangani Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Bambang Kustono dan Direktur Utama Reykjavik Energy Invest (REI) Gudmundur Sigurjonsson.

Purnomo mengatakan, secara bertahap harga jual panas bumi (geotermal) akan mencapai 5 dollar AS per kWh dalam kurun 30 tahun kontrak pembangkit listrik. Pada kurun 10 tahun pertama produksi, harga jual geotermal kemungkinan masih di atas 5 sen dollar AS per kWh guna pengembalian investasi, namun secara bertahap akan turun menjadi 5 sen dollar per kWh.

Ossur Skarpheoinsson mengatakan, untuk tahap awal pihaknya siap berinvestasi dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi berkapasitas 500 MW, dan dapat diperbesar. Biaya investasi pengembangan geotermal berkisar 2 juta-4 juta dollar AS per megawatt.

Di Islandia, pemanfaatan energi geotermal memasok hampir separuh dari produksi listrik negara itu. Pihaknya optimistis dapat membantu Indonesia mengembangkan pemakaian geotermal melalui investasi, keahlian, teknologi, dan pengeboran.

Bambang Kustono, mengatakan, wilayah yang akan ditawarkan meliputi Sulawesi, Sumatera, dan Jawa. Penjajakan REI terhadap potensi energi geotermal di Indonesia membutuhkan waktu 3-6 bulan.

Pihaknya berharap pemerintah masih terus mengkaji harga panas bumi yang sesuai guna kelanjutan pengembangan energi geotermal. Biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan geotermal diperkirakan mencapai 2,2 juta dollar AS per megawatt.

Direktur Utama Pertamina Ari Soemarno mengatakan, nilai keekonomian energi geotermal dari REI di Islandia berbeda dengan Indonesia. REI sebagai produsen geotermal dan listrik mampu mematok harga jual listrik 7-8 sen per kWh. Sementara itu, di Indonesia, harga jual listrik ke PLN dibatasi berkisar 5 sen dollar per kWh sehingga sulit mendorong investasi pengembangan energi geotermal.

“Selama harga jual listrik masih dinilai terlalu rendah, sulit menimbulkan insentif keekonomian yang cukup bagi pengusaha panas bumi,” kata Ari.

Penggunaan energi panas bumi di Indonesia hingga akhir tahun ini baru mencapai 250 megawatt dari total kapasitas 27.000 MW. PLTP Kamojang di Jawa Barat dari kapasitas 140 MW akan ditingkatkan menjadi 200 MW, dan PLTP Lahendong di Sulawesi Utara (40 MW). Ada tambahan produksi dari PLTP Sibayak di Kabupaten Karo sejumlah 10 MW akhir tahun ini.

Bambang mengatakan, pihaknya saat ini masih merundingkan harga jual energi geotermal dengan PT PLN sebagai pengguna energi tersebut. Harga jual energi dari PLTP Kamojang yang dipatok Rp 600 per kWh terpaksa ditinjau ulang karena PT PLN meminta penurunan harga. (lkt/tav/kmps)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: