Oleh: blogs | 26 Oktober 2007

Penggunaan Padi Hibrida Dilematis

Penggunaan benih padi hibrida untuk mendukung peningkatan produksi beras dua juta ton gabah kering giling atau GKG dilematis. Di satu sisi petani belum memahami teknologi penanaman padi hibrida yang baik, dan di sisi lain produksi padi hibrida masih sangat kurang.

“Sampai saat ini Indonesia masih mengimpor indukan benih hibrida dari China dan India. Namun saya melihat, benih padi hibrida tetap potensial untuk dikembangkan, asal dikembangkan dengan berbasis pada teknologi petani,” kata Ketua Yayasan Padi Indonesia yang juga mantan Menteri Muda Pertanian periode 1993-1998 Sjarifuddin Baharsjah pada lokakarya bertema Inovasi Teknologi Mendukung Ketahanan Pangan Nasional di Bandar Lampung, Kamis (25/10).

Selama ini, Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Departemen Pertanian (BPPT) sudah menguji dan mengembangkan ratusan jenis varietas padi unggul hibrida. Sayangnya jenis varietas hibrida baru itu hanya dikembangkan secara parsial, tidak diperkenalkan dan disebarkan untuk mengetahui daya tahan dan kemampuan produksinya.

Sjarifuddin mencontohkan, BPPT Jawa Tengah pernah menguji dan mengembangkan padi varietas hibrida jenis HiPa-5 dan HiPa-6. Namun kedua varietas itu hanya dikembangkan di Jawa Tengah tanpa pernah diperkenalkan ke daerah lain. “Bagaimana kita bisa tahu padi varietas hibrida itu bisa dikembangkan di Indonesia atau tidak kalau tidak ada perluasan informasi kepada masyarakat,” katanya.

Kendala lain, sering kali BPPT menguji dan mengembangkan varietas hibrida sesuai dengan referensi teknologi yang tepat. Sehingga produktivitas yang dicapai sudah tentu tepat sesuai prediksi, sekitar 12 ton GKG per hektar. Sayangnya, kata Sjarifuddin, petani yang lebih banyak hidup di lahan marjinal dan tidak mungkin memproduksi padi dengan hasil sama seperti BPPT. “Teknologi petani dan BPPT tentu berbeda,” katanya.

Faktor lain supaya varietas hibrida bisa dikembangkan, katanya, BPPT segera melakukan pemetaan lahan sawah yang bisa dipakai untuk menanam varietas hibrida. Pemilihan sawah yang sesuai harus berlandaskan pengetahuan tentang agroklimat, fisiologi, hama penyakit, serta sosial-ekonomi.

Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Departemen Pertanian Muhrizal Sarwani mengatakan, ke depan BPPT harus melakukan kerja sama dengan perusahaan swasta dan kelompok tani. Setiap benih padi hibrida yang sudah diuji akan dirilis dengan melibatkan petani dan institusi terkait. “Tanpa kerja sama itu, penelitian yang dilakukan BPPT tidak akan bisa diterapkan,” katanya. (HLN/kmps)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: