Oleh: blogs | 31 Oktober 2007

Kelola Limbah dengan 4 Prinsip

KEPEDULIAN lingkungan merupakan salah satu pandangan dan sikap manajemen PT Pupuk Sriwijaya (Pusri). Ke depan, manajemen PT Pusri bertekad melaksanakan kegiatan industri berwawasan lingkungan yang berkelanjutan, melalui pengelolaan sumber daya secara efisien dan bijaksana. Tujuannya, agar bermanfaat bagi masyarakat dan mencegah pencemaran terhadap lingkungan.

Kepala Departemen Humas dan Hukum PT Pusri, Ir Djakfar Abdullah MT, mengemukakan hal itu dalam menanggapi keluhan sebagian warga Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II terkait dengan dugaan pencemaran oleh limbah Pusri.

Menurut Djakfar, dalam pengelolaan limbah pabrik, ada empat prinsip yang diterapkan. Yakni, pengurangan limbah dari sumber, daur ulang, pengambilan dan pemanfaatan kembali secara berkelanjutan menuju produksi bersih.

“Pusri menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan ISO-14001 sebagai landasan untuk menerapkan dan mengkaji ulang tujuan serta sasaran lingkungan secara menyeluruh. Kami selalu melakukan penyempurnaan mutu lingkungan secara terus menerus,” kata Djakfar lugas.
ISO 14001 adalah sertifikasi kelas dunia dalam penerapan sistem manajemen lingkungan suatu perusahaan. Artinya, baik-buruk sistem manajemen lingkungan suatu perusahaan dapat dinilai berdasarkan standar ISO 14001.

Hal yang sama ditegaskan oleh Ir H Edi Wibawa, MM, asisten manajer teknik lingkungan PT Pusri. Sebagai salah satu penggagas Komite Nasional Responsible Care Indonesia (KNCRI), sebuah lembaga internasional yang peduli dengan kelestarian lingkungan dalam proses produksi, Edi mengatakan PT Pusri telah berusaha mengurangi pencemaran udara, air, dan suara.

Sejak 1994, kata dia, Pusri memasang Purge Gas Recovery Unit atau alat pengolah limbah gas yang dapat menekan bau amonia yang keluar. Pengolahan limbah itu, membuat PT Pusri mendapatkan peringkat biru atau peringkat tengah dalam pengelolaan limbah.

PT Pusri juga membangun cerobong asap yang tinggi dan green barrier (sabuk hijau) seluas 12, 8 ha (dari target total mencapai 27 ha) untuk menghambat limbah gas yang tertiup angin ke arah permukiman penduduk. Green barrier ini sekaligus berfungsi meredam suara yang dihasilkan oleh proses produksi.

Menurut Edi, dalam kondisi normal, kandungan amonia di limbah gas kurang dari 0,09 bagian per juta atau part per million (ppm). Bau amonia memang masih dapat tercium jika terdapat kerusakan yang tidak terduga dan limbah asap tertiup angin ke rumah warga. Namun, kandungan amonia yang terbawa ke permukiman warga berkisar 1-2 ppm, atau masih dalam batas toleransi kesehatan masyarakat.

“Saat ini kami terus meningkatkan kemampuan pengolahan limbah hingga akhir 2007, untuk mencapai produksi bersih dan meminimalisasi pencemaran sampai tingkat paling rendah. Nanti, pencemaran bau amonia diharapkan tidak tercium lagi oleh masyarakat,” kata Edi.

Selain gas, limbah cair juga menjadi perhatian PT Pusri. Saat ini limbah cair diolah dengan teknologi “Hidrolizer Stripper” yakni sistem pengolahan yang memanfaatkan kembali limbah untuk pembuatan pupuk. Limbah cair yang membawa amoniak dan urea dipisahkan oleh alat tersebut. Amoniak dan urea yang terbuang dimanfaatkan kembali. Sementara air yang telah bebas dari zat kimia dialirkan ke kolam penampungan dan kembali dilakukan sterilisasi sebelum dibuang ke sungai.

“Melalui proses pengolahan limbah yang telah mendapat sertifikasi ISO itu, tidak mungkin limbah yang dibuang ke sungai masih mengandung zat kimia yang berbahaya,” katanya. (mg12/adv/sumeks)

baca juga
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Minimasi Pemisah Air Limbah (MPAL) PT PUSRI


Responses

  1. semoga kepedulian ini diikuti berbagai pihak. semoga lingkungan kita terjaga. amin. Tuhan jagalah indonesiaku

  2. Alhamdulillah, semoga langkah PT Pusri diikuti oleh perusahaan2 lain.

  3. Selamat saya ucapkan atas penghargaan ISO 14001 dan improvement yang dilakukan untuk mengurangi tingkat pencemaran air, udara serta suara.
    Mudah mudahan untuk kedepannya PT. PUSRI bisa lebih meminimalis atau menghilangkan sama sekali pencemaran lingkungan seperti yang di harapkan warga 1 ilir.

    Dengan pembangunan “Green Barrier” untuk menghambat limbah gas yang tertiup angin ke arah permukiman penduduk merupakan salah satu improvement yang sangat baik sekali, namun alangkah baiknya untuk kedepannya PT. PUSRI melakukan improve supaya tidak ada lagi gas buang yang dapat mengakibatkan pencemaran udara, jadi sumbernya pencemarannya yang di hilangkan dengan penambahan tekhnologi yang lebih canggi lagi. Karena walaupun kandungan amonia yang terbawa ke permukiman warga berkisar 1-2 ppm, atau masih dalam batas toleransi kesehatan masyarakat, tidak menutup kemungkinan menimbulkan efek yang mingkin tidak dirasakan secara langsung oleh warga, bisa saja efeknya timbul 5 tahun kedepan atau lebih.

    Saya pribadi mengucapkan terima kasih atas kepedulian PT. PUSRI terhadap lingkungan. Hanya yang masih terbersit dibenak saya bagaimana usaha PT. PUSRI untuk memperbaiki populasi hewan air di sungai musi, karena dampaknya sudah terasa oleh warga yang berpenghasilan sebagai nelayan, karena populasi ikan, udang serta hewan sungai lainnya tidak sebanyak dahulu lagi.

    Demikian komentar saya. Terima kasih

  4. Saya selaku Consultant ISO 14001 & 18001 sangat berbangga, ternyata industri di Indonesia seperti PUSRI telah mendapatkan manfaat system management lingkungan ISO 14001. Banyak industri hanya menginginkan sertifikasi ISO 14001 based on minimum requirement yang mereka anggap bermanfaat dalam segi bisnis. PUSRI selangah lebih maju karena sudah menerapkan ISO 14001 based on performance dan dirasakan ISO 14001 sangat menguntungkan baik dalam segi bisnis maupun performa proses serta efsisiensi dan zero waste
    Selamat buat PUSRI.

  5. klo denger tulisan ini jadi mau ketawa, liat koran berita pagi hari ini (11-03-2008), PT. Pusri mengeluarkan limbah beracun…. hasil penelitian Bapedalda… mana buktinya alat yang bernama Hidrolizer Stripper yakni sistem pengolahan yang memanfaatkan kembali limbah untuk pembuatan pupuk. Limbah cair yang membawa amoniak dan urea dipisahkan oleh alat tersebut. Amoniak dan urea yang terbuang dimanfaatkan kembali. Sementara air yang telah bebas dari zat kimia dialirkan ke kolam penampungan dan kembali dilakukan sterilisasi sebelum dibuang ke sungai. jangan-jangan alat tersebut di beli oleh PT. Pusri untuk mendapatkan ISO tersebut….. lucuuuuu

  6. bagaimana hasil pengolahan limbah pusri katanya sudah bagus tapi mengapa sungai musi masih sering tercemar dari pabrik pusri dengan adanya ikan yang banyak mati di sekitar pembuangan limbah pusri

  7. dalam pengolahan limbah pusri katanya kandungan amoiak pada limbah masih sangat banyak. Apakah kandungan amoniak pada limbah dapat dikurangi sehingga pengolahan limbah pusri bisa lebih sederhana


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: