Oleh: Palimbani | 1 November 2007

BPPT Galakkan Pembangkit Listrik Hibrid

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menggalakkan pembangkit listrik hibrid atau perpaduan sumber energi dengan menekan kebutuhan bahan bakar minyak dan mengutamakan energi terbarukan.

Lembaga di bawah Kementerian Negara Riset dan Teknologi ini juga berhasil mendorong PT PLN mengalihkan sebagian investasinya untuk mengembangkan pembangkit listrik hibrid tenaga surya, angin, dan diesel di Pulau Rote, Rotendau, Nusa Tenggara Timur.

“Pembangkit listrik hibrid untuk menghemat bahan bakar minyak. Kalau PLN mau mengembangkan teknologi ini, sekarang juga tidak ada kesulitan lagi untuk menagih rekening listrik dari pelanggan karena sudah dikenalkan teknologi prabayar listrik seperti sudah diterapkan pertama kali di Gorontalo,” kata Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Arya Rezavidi, Selasa (30/10).

Arya mengatakan, PT PLN sering beralasan karena sulitnya proses penarikan rekening listrik, maka pengembangan listrik di daerah terpencil tidak dilakukan. Apalagi andalan sumber energinya berupa bahan bakar minyak yang sekarang mengalami kenaikan harga terus-menerus makin menambah beban PLN.

Secara terpisah, Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) Rinaldy Dalimi mengatakan, adanya kenaikan harga bahan bakar minyak secara terus-menerus saat ini semestinya dipergunakan sebagai peluang bagi pemerintah untuk merangsang produksi listrik dengan energi terbarukan.

“Subsidi semestinya perlu diberikan bagi investor yang mau mengembangkan produksi energi dari sumber yang terbarukan,” kata Rinaldy.

Menurut Arya, proyek pembangkit listrik hibrid PT PLN atas kerja sama dengan BPPT di Pulau Rote memiliki kapasitas produksi dari sumber energi surya sebesar 50 kilowatt, angin 40 kilowatt, dan diesel 125 kilovolt ampere. Saat ini BPPT sedang melatih tenaga operator pembangkit hibrid yang akan dioperasikan pada awal Desember 2007.

“Daerah yang akan disuplai listrik PLN itu di Desa Nembrala, kawasan wisata pantai. Banyak turis yang surfing (berselancar),” kata Arya.

Teknologi prabayar listrik yang diterapkan di Gorontalo, menurut Arya, merupakan penyempurnaan teknologi program Badika (singkatan dari kata bayar di muka) pada sekitar tahun 2000. Program Badika ini mengalami kegagalan teknis. (NAW/kmps)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: