Oleh: blogs | 1 November 2007

Tanggulangi Pencemaran, Invest Miliaran

PROSES penyempurnaan pengelolaan limbah PT Pusri, tak hanya menggunakan teknologi “Hidrolizer Stripper“. Ada juga sistem lain yakni dengan pemakaian Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Minimasi Pemisah Air Limbah (MPAL). [ baca juga Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Minimasi Pemisah Air Limbah (MPAL) PT PUSRI ]

Ir H Edi Wibawa, MM, asisten manajer teknik lingkungan PT Pusri menegaskan hal itu, Rabu (31/10). Menurut dia, pengolahan limbah PT Pusri lebih bersifat alamiah karena memanfaatkan tanaman eceng gondok sebagai media untuk membantu mengatasi air limbah. Eceng sendiri memiliki kekuatan terhadap lingkungan yang keras asam maupun basa.

“Kualitas limbah yang keluar dari sistem IPAL ini diharapkan memenuhi Baku Mutu Limbah cair yang telah ditetapkan oleh pemerintah sesuai dengan SK Menteri Lingkungan Hidup Nomor 122 Tahun 2004 dan SK Gubernur Nomor 18 Tahun 2005,” kata Edi.

Tak berhenti di situ, Pusri juga mengeliminir pengaruh tingkat kebisingan suara. “Berdasarkan kajian dari Bapedalda dan PPLH Unsri di dalam setiap pabrik perlu di pasang alat tambahan berupa alat peredam suara (silencer). Saat ini masing-masing pabrik di Pusri sudah dipasang alat itu,” jelasnya lagi.

Drs Zauin Ismed MBA, asisten manajer humas PT Pusri menambahkan, dengan upaya-upaya pengelolaan limbah sedemikian rupa, ia menyesalkan tuduhan sebagian warga tentang pencemaran lingkungan yang disebut-sebut dilakukan oleh PT Pusri. Katanya, PT Pusri selama ini sudah menginvestasikan dana miliaran rupiah untuk program penanggulangan pencemaran lingkungan. Terutama, pengadaan berbagai alat atau unit pengolahan limbah.

“Kami tidak tahu mengapa selama ini warga selalu menuduh limbah PT Pusri sebagai sumber pencemaran Sungai Musi. Di sepanjang DAS Musi ada industri lain seperti pengolahan minyak dan pabrik crumb rubber,” tutur Ismed.

Ia yakin sumber pencemaran itu bukan dari limbah amoniak PT Pusri. Sebab, jarak antara lokasi yang tercemar dengan bak penampungan limbah 800 meter. Jarak sejauh itu, menurut Ismed, sudah melarutkan amoniak dengan air.

Pun demikian halnya dengan kandungan gas amonia yang terbawa ke permukiman warga yang masih dalam batas toleransi kesehatan masyarakat. “Jika memang pencemaran itu dari limbah amoniak PT Pusri, mengapa di sungai dekat bak penampungan limbah dan dekat dermaga tidak ada ditemukan ikan yang mati? Selain itu juga tidak pernah ditemukan warga di komplek Pusri sakit-sakitan karena bau amoniak. Padahal, lokasi tinggalnya menyatu dengan pabrik,” katanya.

Ismed juga mencontohkan ekosistim yang lain, seperti tumbuh-tumbuhan di dalam kawasan pabrik dan di sepanjang green barrier yang bisa tumbuh subur dan asri. “Lokasinya lebih dekat dengan sumber pembuangan. Artinya sumber pencemaran bukan dari limbah kami,” katanya.

Sementara itu, Ir H Bambang Subiyanto MM, kepala Departemen Kredit Usaha Kecil dan Bina Lingkungan PT Pusri mengatakan, selama ini pihaknya selalu mencoba aktif melakukan sosialisasi tentang proses pengelolaan limbah pabrik. Pusri juga melibatkan warga dalam upaya pemberdayaan masyarakat dengan rutin menggelar aneka program kemitraan dan sosial.

“Pada prinsipnya kami terbuka dengan berbagai keluhan warga. Selama itu jelas dan berdasar, semuanya pasti akan kami tindak lanjuti. Ini adalah bagian dari kebijakan lingkungan PT Pusri. Kami akan lakukan evaluasi secara terus-menerus. Kami berterimakasih dengan masukan warga karena Pusri ini juga milik warga,” kata Bambang.

Komitmen yang sama diungkapkan oleh Ir Syafrie Lamizar, supervisor Bina Lingkungan. Dikatakan, setiap tahunnya, Departemen KUK dan Bina wilayah selalu mengadakan kegiatan yang sifatnya sosial dan pembinaan.

”Pelatihan ini dapat terlaksana terus jika perusahaan kita memperoleh laba. Karena setiap pelatihan dan bidang-bidang lainnya diperoleh dari laba perusahaan. Yang mana besarnya laba yang diambil yakni satu persen dari laba perusahaan setelah dipotong pajak,” tuturnya,

Nah, jika perusahan merugi, lanjut Syafrie maka kemitraan dan pembinaan kepada warga tidak akan terwujud. “Karena, itu bantu Pusri agar tetap andal dan sukses menjalankan perusahaan. Mohon support dan restunya, Dengan begitu ke depan akan lebih banyak lagi program kemitraan, pembinaan dan kegiatan sosial bersama warga,” katanya. (mg12/adv/sumeks)

baca juga
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Minimasi Pemisah Air Limbah (MPAL) PT PUSRI


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: