Oleh: Palimbani | 7 Desember 2007

Benih Hibrida Tahan Kekeringan

Benih Hibrida Tahan Kekeringan
Harapan Baru Peningkatan Produksi Jagung Nasional

Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros, Sulawesi Selatan, menemukan galur atau calon varietas benih jagung hibrida yang tahan kekeringan. Penemuan ini memberikan harapan baru bagi kebangkitan produksi jagung nasional di tengah terus meningkatnya permintaan jagung dunia.

Galur baru ini hasil persilangan benih jagung varietas Mr 14 dengan (hasil) persilangan benih SP-006, 007, 008, 009, Swn-5, dan Bisma.

Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Muneng Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), Probolinggo, Jawa Timur, saat bencana kekeringan melanda bulan September-Desember 2006. Galur baru tersebut tengah kembali menjalani uji lapangan.

Hasil penelitian menunjukkan, produktivitas galur baru jagung hibrida ini mencapai 11,81 ton per hektar jagung kupasan basah dalam kondisi tanam normal. Apabila ditanam di lahan kering atau kurang air, potensi produktivitasnya 7,29 ton per hektar jagung kupasan basah.

“Penemuan galur baru ini sebagai langkah awal dalam perakitan varietas unggul jagung hibrida nasional yang toleran kekeringan,” kata Amin Nur, Kamis (6/12) di Bogor. Amin adalah pemulia tanaman dari Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros pada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Deptan.

Menurut Amin, petani jagung saat ini membutuhkan benih hibrida yang tak saja produktivitasnya tinggi, tetapi tahan terhadap kekeringan.

Benih jagung hibrida tahan kekeringan cocok bila ditanam di lahan marjinal, lahan kering seperti di NTB, NTT, Sulawesi Selatan, dan Papua. Selain itu akan memberikan keuntungan berlipat bagi petani.

“Kita sudah memiliki varietas jagung yang tahan kekeringan, seperti varietas Lamuru dan Sukmaraga. Tetapi, kedua varietas itu hasil persilangan bebas,” katanya. Produktivitas kedua varietas di lahan kering mencapai 5 ton per hektar jagung kupasan basah.

Menurut Amin, dampak pemanasan global mendorong perubahan iklim yang sulit ditebak. Ancaman kekeringan menjadi momok yang paling menakutkan bagi petani. Karena itu tidak ada pilihan selain menciptakan benih jagung hibrida yang tahan kekeringan.

Benih jagung hibrida yang ada sekarang membutuhkan cukup air dan harus ditanam dalam kondisi normal. Begitu tanaman jagung kurang air, produktivitas bisa turun hingga 50 persen. Jika hal ini dibiarkan, petani yang bakal merugi dan tak mau lagi menanam jagung hibrida.

Sementara itu, Koordinator Program Penelitian Tanaman Pangan Departemen Pertanian Rachman Hidajat menegaskan, permintaan benih jagung hibrida terus meningkat. Sayangnya peningkatan permintaan ini tidak diimbangi promosi dan produksi jagung nasional yang seimbang.

“Akibatnya, benih jagung hibrida lokal kalah bersaing dengan benih jagung dengan tetua impor,” katanya. Harus ada upaya nyata dari para pemangku kepentingan agar meningkatkan produksi benih jagung hibrida nasional dengan melakukan langkah promosi.

Total luas area tanam jagung per tahun sekitar 3,5 juta hektar. Dari luas area itu, 75 persen ditanami jagung varietas unggul bermutu, yang terdiri atas 48 persen varietas bersari bebas dan 27 persen benih hibrida. Sekitar 25 persen lagi petani masih menanam jagung varietas lokal. Penanaman varietas unggul bermutu banyak yang menggunakan benih turunan F2 dan F3. (MAS/kompas)


Responses

  1. selamat..
    berapa rata2 produksi pipil keringnya/ha? sifat single, doble,three way?
    apa sudah ada yang membeli patennya?
    bisakah saya minta petunjuk teknis budidaya pembenihan jagung hibrida?
    thanks..

  2. Dari pengamatan saya bukan hanya kali ini saja peneliti dari dalam negeri yang berhasil menemukan Varietas unggul yang baru,
    Tetapi realisasi dan pengembangannya hanya sebatas penelitian dan penemuan……
    mengapa ????….
    Menurut saya karena arah dan program dari hasil penelitian masih belum jelas….
    Bila dibandingkan dengan perusahaan Asing yang bergerak dibidang pembenihan, mereka juga punya Team Reset yang tugasnya menemukan Varietas yang baru dan memang melalui beberapa pengamatan yang ketat, sehingga dapat segera diterima dan dipasarkan ke petani.
    Mungkn karena Dana barang kali……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: