Oleh: blogs | 8 Januari 2008

Elpiji Industri Naik Berkala

PT Pertamina akan menyesuaikan harga elpiji untuk keperluan bisnis dan industri secara berkala. Mulai 7 Januari 2008, harga elpiji non-rumah tangga tersebut dinaikkan sebesar 25-35 persen. Adapun kenaikan harga elpiji rumah tangga masih menunggu persetujuan pemerintah.

Direktur Niaga dan Pemasaran PT Pertamina Achmad Faisal, Senin (7/1), mengemukakan, setelah kenaikan ini, harga elpiji dalam kemasan 50 kilogram dan bulk (satu bulk sama dengan satu metrik ton) sudah mendekati harga keekonomian.

“Jadi, selanjutnya harga akan disesuaikan berkala sebagaimana harga bahan bakar minyak non- subsidi,” ujar Faisal.

Harga elpiji tabung 50 kilogram naik dari Rp 5.852 per kilogram menjadi Rp 7.932 per kg. Adapun harga elpiji dalam bulk naik dari Rp 5.852 per kg menjadi Rp 7.329 per kg.

Faisal mengatakan, harga patokan elpiji yang dipakai adalah 825 dollar AS per ton. Ia menilai konsumen industri dan bisnis sanggup mengimbangi kenaikan tersebut.

Konsumsi elpiji nasional mencapai 1,1 juta ton per tahun. Konsumen elpiji terbagi atas sektor rumah tangga (70 persen), industri (17 persen), dan bisnis (13 persen).

Jumlah konsumen bisnis sekitar 150.000 pelanggan yang mayoritas terdiri atas mal, hotel, restoran, dan rumah sakit. Penyesuaian harga untuk elpiji 50 kg dan bulk terakhir kali dilakukan Pertamina bulan September 2007. Saat itu, harga dinaikkan dari Rp 4.250 menjadi Rp 5.852 per kg.

Faisal mengungkapkan, Pertamina masih menunggu persetujuan pemerintah untuk kenaikan elpiji dalam tabung 12 kg. Dengan alasan merugi, Pertamina telah menyampaikan usulan kenaikan harga pada tahun lalu.

Terkait kelangkaan minyak tanah, menurut Faisal, itu terjadi di daerah yang menjalani program konversi ke gas elpiji. “Ya bagaimana tidak kurang, semua ramai- ramai membeli untuk dijual lagi. Masa satu keluarga antre semua,” ujar Faisal.

Berdasarkan pengamatan, warga Jakarta Pusat dan Banten mulai sulit mendapatkan minyak tanah. Warga harus antre di pangkalan minyak tanah berjam-jam. Harga eceran minyak tanah pun melambung dua sampai tiga kali lipat dari harga normal.

“Kalau antre memang harganya murah, Rp 2.500 per liter. Namun, antre berjam-jam pun kadang tetap tidak kebagian juga. Terpaksa membeli di pengecer atau pedagang keliling dengan harga Rp 7.000 per liter,” kata Endang (36), warga Petamburan I, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Sementara di Pasar Badak, Pandeglang, Banten, ratusan jeriken tertumpuk di sebuah pangkalan minyak tanah. Lebih dari lima pedagang eceran tengah menunggu jeriken mereka yang belum juga terisi minyak tanah.

Para pengecer minyak tanah di Desa Cigondang, Pandeglang, harus antre empat hari. Sedangkan sejumlah pangkalan minyak tanah di Pandeglang tutup. Di Pasar Badak, dari empat pangkalan hanya satu yang buka.

Sebenarnya pasokan minyak tanah dari agen tidak tersendat. Pasokan minyak tanah di beberapa pangkalan pun sudah ditambah. “Dua minggu ini pasokannya sudah ditambah dari 5.000 liter jadi 7.500 liter per minggu. Namun tetap saja habis dalam waktu sehari. Memang permintaannya tambah banyak,” kata Bakhtiar, pemilik pangkalan minyak di Pandeglang. (NEL/NTA/DOT/KOMPAS)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: