Oleh: blogs | 23 Januari 2008

Cangkang Sawit Tekan Biaya Produksi

PT Perkebunan Negara atau PTPN VI mampu menekan 85 persen biaya produksi Teh Kayu Aro di kaki Gunung Kerinci. Pengurangan ini terjadi setelah PTPN menggunakan cangkang sawit sebagai bahan bakar pengganti solar. Bahkan, investasi mesin baru juga telah balik modal.

“Cangkang sawit ini kami manfaatkan untuk proses pelayuan dan pengeringan teh,” tutur M. Imron, Kepala Pabrik Perkebunan Teh Kayu Aro, di Jambi, Selasa (22/1).

Menurut Imron, untuk proses pelayuan dan pengeringan teh ini, awalnya PTPN menggunakan tujuh ton solar per hari. Harga solar yang kini telah mencapai Rp 7.200 per liter, dari sebelumnya Rp 2.300 per liter, sulit dijangkau PTPN VI.

Karena itu, tambah Imron, PTPN memanfaatkan cangkang sawit yang merupakan buangan hasil pengolahan sawit PTPN sendiri pada sejumlah pabrik kelapa sawit di Sungai Bahar, Kabupaten Kerinci. Adapun, untuk pengolahan teh Kayu Aro, PTPN memanfaatkan 25 ton cangkang sawit setiap harinya. “Penggunaan cangkang sawit dipasok dari kebun seinduk kami di Sungai Bahar,” ujarnya.

Untuk pemanfaatan energi dari cangkang sawit ini, PTPN hanya mengeluarkan investasi awal Rp 8 miliar, untuk membeli delapan tungku mesin yang didatangkan dari Jawa Barat. Dengan penghematan biaya produksi, dana yang dikeluarkan utuk investasi mesin, saat ini sudah balik modal.

Beberapa PTPN di Sumatera, PTPN III dan PTPN IV di Sumatera Utara, juga telah menggunakan cangkang sawit sebagai sumber energi.

Kembangkan pasar

Pihaknya tengah mengembangkan pasar Teh Kayu Aro. Dalam enam bulan terakhir, India telah mengimpor Teh Kayu Aro sebanyak 60 ton teh kering per tahun. Para importir India, menurut Imron, bahkan berani membayar dengan harga 1,7 Dollar AS per kilogram. Harga ini jauh di atas harga pasar internasional yang saat ini mencapai sekitar 1,3 Dollar AS per kg.

Dengan masuknya India, kata Imron, berarti teh Kayu Aro telah dipasarkan ke Inggris, Perancis, Amerika Selatan, dan Jepang. Namun, Imron menyayangkan, penjualan teh masih bergantung pada pasar dunia. Saat ini, PTPN VI hanya dapat menjual hasil produksinya lewat broker di Singapura.

”Inilah yang menyebabkan mengapa harga teh dari kaki Gunung Kerinci ini terbilang rendah, bahkan turun dibandingkan 10 tahun lalu, ketika Indonesia dapat melaksanakan pemasaran langsung ke negara konsumen,” katanya.

Teh Kayu Aro, tegas Imron, diakui banyak negara sebagai kualitas teh nomor dua terbaik di dunia, setelah teh dari kaki Gunung Himalaya. Sampai saat ini, keluarga Kerajaan Inggris pun masih mengkonsumsi dari kaki Gunung Kerinci.

Saat ini, kegiatan pembabatan pohon, diikuti dengan pembukaan sawah-sawah baru semakin marak di sekitar kaki Gunung Kerinci, yang berdekatan dengan perkebunan teh Kayu Aro. Setidaknya pembukaan tutupan hutan telah hampir menyentuh pinggang Gunung Kerinci. (ITA/harian KOMPAS)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: