Oleh: blogs | 24 Januari 2008

Petani Temukan NPK yang Diduga Palsu

Petani menemukan pupuk NPK yang diduga palsu di Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Rabu (23/1). Pupuk dengan butiran sebesar kacang tersebut keras membatu. Ketika dipecah, bagian tengahnya berwarna putih seperti kapur.

Supandi, petani dari Blok Manis, Desa Sindanglaut, Kecamatan Lemahabang, menyatakan, baru kali ini mendapati pupuk NPK seperti itu. Biasanya, pupuk NPK berwarna merah, butirannya lebih kecil serta mudah hancur.

Pupuk mencurigakan itu dikemas dalam karung berlabel Phonska. Menurut Supandi, pupuk sebanyak satu kuintal itu ia beli dua minggu lalu dari kios langganannya. Namun, ia baru menyadari keanehannya saat mencampur pupuk itu dengan urea.

Jika biasanya, pupuk langsung hancur, pupuk NPK itu keras. Saat dicuci dengan air, pupuk tetap keras dan warna merahnya luntur. Supandi lantas melapor ke Kepala Desa Sindanglaut.

Ketika dikonfirmasi, Dedi Junaedi, pemilik kios, mengakui, pupuk NPK itu dijual di kiosnya. Ia mendapat pasokan dari toko lain.

Polsek Lemahabang langsung menyisir kios-kios pupuk untuk mengumpulkan pupuk yang diduga palsu. Sayangnya, pupuk tersebut sudah habis terjual.

Abdul Manan, perwakilan PT Petrokimia Jawa Barat, perusahaan yang mengeluarkan pupuk NPK Phonska, menyatakan belum bisa menentukan apakah pupuk tersebut palsu atau tidak. Pihaknya akan mengambil contoh pupuk untuk diteliti.

Atasi kelangkaan pupuk

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Departemen Pertanian Sutarto Alimoesa, saat menghadiri rapat koordinasi distribusi pupuk bersubsidi PT Pupuk Kalimantan Timur, Rabu (23/1) di Makassar, Sulawesi Selatan, mengatakan, pemerintah sedang menguji coba sistem distribusi pupuk yang disebut sistem tertutup untuk mengatasi kelangkaan pupuk di dalam negeri.

Menurut Sutarto, melalui sistem baru ini, perencanaan di tingkat petani lebih terukur karena jelas siapa yang membutuhkan di tiap kabupaten. Pengumpulan data kebutuhan petani dan kelompok tani dikoordinasikan oleh kabupaten, selanjutnya disetor kepada provinsi dan terakhir kepada Departemen Pertanian (Deptan).

”Deptan kemudian memberi informasi kepada produsen agar mendistribusikan pupuk sesuai kebutuhan masing-masing daerah,” papar Sutarto. Saat ini sistem baru diujicobakan di enam kabupaten. (DOE/NIT/KOMPAS)


Responses

  1. bagi pemalsu pupuk sadar dong!! kasian petani.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: