Oleh: blogs | 26 Januari 2008

Opsi Lain untuk Senoro

PT Pertamina dan Medco Energi diberi waktu sampai akhir Februari 2008 untuk menyelesaikan negosiasi harga gas Senoro dengan Mitsubishi. Apabila kesepakatan harga tidak juga tercapai, kedua perusahaan itu diminta mencari alternatif pembangunan kilang sendiri.

Deputi Finansial dan Ekonomi Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Migas Eddy Purwanto mengemukakan hal itu, Jumat (25/1) di Jakarta.

”BP Migas minta negosiasi dilakukan sesuai dengan patokan harga yang disetujui pemerintah beberapa waktu lalu. Pemerintah berkepentingan agar proyek yang sudah direncanakan selama dua tahun ini segera dilaksanakan dengan menghasilkan yang terbaik bagi negara,” papar Eddy.

Pemerintah yang diwakili BP Migas dan Direktorat Jenderal Migas telah menyetujui patokan harga jual gas dari Lapangan Senoro dan Matindok sebesar 3,85 dollar AS per MMBTU.

Patokan harga itu pula yang diajukan konsorsium Medco-Pertamina sebagai pemasok gas ke Mitsubishi Corp yang juga pemegang saham mayoritas pada kilang pengolahan gas alam cair Senoro.

Proyek gas alam cair Senoro di Sulawesi Tengah merupakan integrasi dari dua proyek, yaitu pengembangan lapangan gas alam di Matindok dan Senoro serta pembangunan kilang gas alam cair berkapasitas 2 juta ton.

Gas dari Senoro rencananya akan diekspor untuk kebutuhan Kansai Corporation dan Toho Corporation mulai tahun 2012.

Lapangan gas Matindok dimiliki 100 persen oleh Pertamina, sedangkan di Senoro BUMN tersebut bermitra dengan Medco Energi, yang sama-sama memiliki kepemilikan blok sebesar 50 persen. Cadangan gas dari kedua lapangan tersebut diperkirakan mencapai 2 triliun kaki kubik.

Mitsubishi selain sebagai pemilik saham mayoritas juga menjadi penjual gas alam cair yang dihasilkan dari kilang Senoro. Mitsubishi telah mendapatkan pembeli gas Senoro, yaitu Kansai Corporation dan Toho Corporation.

Untuk menekan harga gas dari kilang, Mitsubishi meminta harga suplai gas dari lapangan diturunkan. Jika tidak ada kesepakatan harga dengan Mitsubishi, Pertamina dan Medco diminta untuk mencari alternatif lain, termasuk pengembangan kembali ke pola upstream. Artinya, pengembangan dari lapangan sampai ke pengolahan gas dipegang oleh konsorsium pemilik lapangan. Pola ini diterapkan untuk proyek gas alam cair Bontang, Arun, dan Tangguh.

”Pertamina dan Medco bangun sendiri kilangnya, tentu kalau mau mencari harga termurah harus diadakan tender. Kalau biaya pembangunan kilang bisa ditekan, harga jual gas ke kilang juga bisa lebih tinggi,” katanya.

Sebaliknya, apabila harga pembangunan kilang mahal, akan menekan harga gas di hulu. Biaya pembangunan kilang Senoro dua tahun lalu diperkirakan 1,2 miliar dollar AS.

Direktur PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Tri Siwindono mengatakan, opsi membangun sendiri kilang pengolahan gas tidak gampang. ”Apalagi untuk mencari pinjaman 1 miliar dollar AS, sementara Pertamina juga memiliki proyek-proyek lain yang membutuhkan pinjaman. Ini pentingnya keberadaan Mitsubishi,” ujar Tri.

Sementara, keberadaan trader gas alam cair terbesar di Jepang ini juga penting untuk mempermudah mencari pembeli potensial. Pengembangan kilang dengan pola upstream, lanjut Tri, tidak lagi cocok dengan situasi pasar gas alam cair saat ini karena membutuhkan jaminan penuh dari pemerintah.

Gas dari Senoro diharapkan bisa melanjutkan komitmen ekspor gas alam cair ke Jepang setelah penurunan produksi gas dari lapangan-lapangan di Kalimantan Timur dan Nanggroe Aceh Darussalam.

Negosiasi Natuna

Terkait pengembangan gas, negosiasi Natuna D Alpha diperkirakan akan berlangsung alot. Menurut Eddy, penawaran harga gas yang diajukan pemerintah dan ExxonMobil sebagai operator sulit untuk mencapai titik temu. ”Bedanya agak jauh, saya kira bakal sulit,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Kompas, pemerintah dan ExxonMobil telah sepakat dengan angka bagi hasil 60:40. Namun, kedua belah pihak belum sepakat soal harga.

Pemerintah mengajukan harga patokan gas 7 dollar AS per MMBTU, sementara ExxonMobil meminta harga 10 dollar AS per MMBTU.

Senin lalu, Senior Vice President ExxonMobil Corporation Mark Albers bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Namun, tak ada penjelasan apa pun dari pihak Istana tentang hasil pertemuan tersebut.

Saat ini, ExxonMobil menguasai 76 persen kepemilikan di Blok Natuna D Alpha, sedangkan sisanya dimiliki Pertamina. (DOT)***

***Harian KOMPAS


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: